Lewati ke konten
AI Search

Karier SEO untuk pemula saat AI mengambil alih eksekusi

Karier SEO untuk pemula saat AI mengambil alih eksekusi

Dulu, anak baru di tim saya menghabiskan minggu-minggu pertamanya mengganti ratusan meta tag dan merapikan internal link satu per satu. Pekerjaan paling membosankan sedunia. Mata kering, punggung pegal, ujung-ujungnya cuma jadi satu baris di laporan. Tapi di balik kebosanan itu ada sesuatu yang diam-diam tumbuh: insting. Pelan-pelan Anda bisa menebak halaman mana yang bakal bergerak bahkan sebelum datanya keluar.

Pintu masuk itu sekarang nyaris tertutup.

Tugas-tugas tadi justru yang paling cepat diembat AI. Kalau dulu insting itu lahir dari ribuan pengulangan kecil yang membosankan, sekarang ada satu pertanyaan yang menggantung dan agak bikin tidak nyaman. Anak baru ini menempa instingnya di mana?

Itu yang terus mengusik saya sepanjang rekaman episode pertama searchbro* party minggu lalu. Obrolan lengkapnya bisa Anda tonton di sini. Kami mulai dari topik lain, tapi selalu balik ke titik yang sama.

Yang patah tangganya, bukan industrinya

Jangan salah paham. SEO baik-baik saja.

Yang rontok itu jenjang belajarnya. Dua puluh tahun pola karier di bidang ini bentuknya nyaris seragam: kerjakan yang remeh, amati, pahami, baru dipercaya pegang yang besar. Anak tangga paling bawah dari tangga itu yang sekarang dicopot orang. Dan kalau satu-satunya yang bisa Anda jual adalah tenaga untuk mengerjakan hal yang sudah bisa dikerjakan skrip, Anda akan duduk di ruang interview dengan tangan kosong.

Pertanyaan yang saya ajukan ke kandidat pun berubah total. Saya tidak lagi peduli Anda bisa mengerjakan apa. Saya ingin mendengar Anda berpikir. Kenapa traffic klien ini turun tiga bulan beruntun? Apa yang sebenarnya rusak, dan untuk siapa Anda memperbaikinya, untuk bisnisnya atau cuma untuk angka di dashboard? Jawaban semacam itu tidak pernah keluar dari kotak prompt.

Pengalaman beneran. Cuma itu yang AI tidak punya.

Soal teori, saya angkat tangan duluan. AI menjelaskan konsep SEO lebih runtut dari saya sendiri di pagi hari sebelum kopi pertama. Tapi ada satu hal yang tidak bisa dia palsukan, dan tidak akan pernah bisa. Pernah salah, lalu menanggung sendiri akibatnya.

Jadi kalau Anda baru mulai, tolong berhenti menunggu izin dari siapa pun. Beli domain murah malam ini juga. Bangun sesuatu yang jelek, dorong sampai naik ranking, lalu sengaja rusakkan buat lihat apa yang runtuh. Pasang iklan seharga makan siang dan amati ke mana uang Anda lari. Hancurkan, perbaiki, ulangi sampai bosan. Saya bisa mencium kandidat yang pernah melewati siklus ini dalam lima menit pertama wawancara. Dan saya bisa mencium yang cuma hafal teori sama cepatnya.

Sertifikat? Hampir tidak pernah saya baca.

Yang saya cari orang yang pernah menekan satu tombol, melihat angkanya jatuh, dan tidak bisa tidur sebelum paham kenapa.

Pakai AI, tapi jangan diperlakukan seperti orang tua

Sekali lagi, bukan berarti jauhi AI. Saya memakainya tiap hari.

Suruh dia mengebut hal yang berat. Menjelaskan konsep asing, mengadu dua pendekatan yang sama-sama masuk akal, membongkar kenapa satu halaman tiba-tiba kehilangan separuh kliknya. Lalu, ini bagian yang paling sering dilompati orang, segera bawa jawaban itu ke proyek kecil milik Anda sendiri. Teori yang tidak pernah Anda uji dengan tangan sendiri cuma akan jadi hafalan yang menguap minggu depan. Anggap AI itu rekan magang yang super cepat tapi gemar asal yakin, bukan mentor yang setiap petuahnya wajib dituruti.

Di sinilah banyak orang akan terpeleset

Bagian ini yang sebenarnya bikin saya agak waswas.

AI menyodorkan jawaban dengan nada seyakin presenter berita malam. Sebagian benar. Sebagian lagi salah. Lalu ada potongan kecil dari yang salah itu, yang cukup berbahaya untuk menjatuhkan sebuah website kalau Anda jalankan tanpa berhenti berpikir. Tanpa fondasi yang kuat, ketiganya kelihatan sama meyakinkannya. Anda akhirnya cuma mengangguk, meminjam rasa percaya diri dari mesin yang sebetulnya sedang menebak.

Orang yang bertahan adalah yang sanggup berhenti di tengah jalan dan bilang, "kedengarannya rapi, tapi ini keliru, dan saya tahu persis kenapa." Dulu kemampuan menyaring seperti itu cuma nilai tambah. Sekarang ia inti dari pekerjaannya.

Yang saya rekrut itu sikapnya, titik

Tanya saya satu hal yang paling saya hargai dari kandidat baru, dan jawabannya bukan daftar skill. Kemauan belajar. Kepala yang mau dibuka.

Bidang ini berlari terlalu kencang untuk dikejar dengan pengetahuan yang berhenti tumbuh. Yang Anda kuasai habis-habisan hari ini akan usang dalam dua belas bulan, suka atau tidak. Saya lebih rela melewatkan kandidat yang jago di atas kertas tapi datang merasa sudah tahu segalanya, dan sejauh ini saya tidak pernah menyesali pilihan itu. Beri saya orang yang ilmunya baru setengah tapi matanya menyala tiap ketemu hal baru, kapan pun.

Skill basi dalam setahun. Yang membuat seseorang terus terpakai justru karena dia tidak pernah kehilangan rasa penasaran.

searchbro* saya bangun untuk satu hal: memetakan talenta organic growth Indonesia, orang per orang. Obrolan seperti inilah alasannya ada. Kalau Anda sedang merintis karier di SEO, atau sedang menyusun tim dan masih meraba apa yang benar-benar layak dicari, pintu saya terbuka.

Butuh bantuan dengan ini?

Obrolan pertama gratis, tanpa slide deck.

Jadwalkan panggilan