Lewati ke konten
SEO

SEO Harus Bicara Revenue, Bukan Cuma Ranking

SEO Harus Bicara Revenue, Bukan Cuma Ranking

Tulisan ini saya susun ulang dari obrolan saya bersama DailySEO ID di episode "SEO Harus Bicara Revenue, Bukan Cuma Ranking", untuk Anda yang lebih suka membaca daripada menonton.

Ada satu hal yang mengganjal saya sejak lama. SEO di banyak organisasi diperlakukan seperti anak tiri. Dan sebagian besar penyebabnya tidak datang dari sisi klien, melainkan dari cara industri ini menjual dirinya sendiri.

Perhatikan bagaimana kebanyakan proposal SEO disusun. Paket A, paket B, sekian backlink, sekian artikel per bulan. Mirip jualan bakso. Yang hampir tidak pernah muncul di halaman pertama proposal itu justru pertanyaan yang paling penting, yaitu apa business objective Anda tahun ini, dan di titik mana search bisa berkontribusi ke sana.

Kenapa SEO selalu kalah kursi di meja bisnis

Data belanja iklan mengulang pola yang sama dari tahun ke tahun. Paid ads mendapat porsi budget yang jauh lebih besar dibandingkan organic, meskipun dalam jangka panjang organic sering memberikan return yang lebih efisien.

Alasannya sederhana. Paid ads bisa menunjukkan angka yang dipahami business owner sejak hari pertama, sementara SEO secara historis gagal membuktikan kontribusinya terhadap angka yang sama.

Saya tidak menyalahkan pemilik bisnis atas hal ini. Kalau yang dipresentasikan kepada mereka setiap bulan adalah jumlah keyword yang naik posisi dan checklist meta title, wajar kalau mereka tidak melihat hubungannya dengan revenue. Ranking dan traffic itu indikator turunan, bukan tujuan. Begitu sebuah campaign dimulai dari pertanyaan "keyword apa yang mau kita rank", arahnya sudah melenceng sebelum pekerjaan pertama dimulai.

Titik berangkat yang benar adalah pertanyaan bisnis. Berapa target revenue tahun ini? Segmen mana yang kontribusinya di bawah ekspektasi? Seberapa dalam penetrasi Anda di kategori yang menjadi target? Baru dari jawaban itu, strategi pencarian diturunkan.

Cara berpikir ini yang saya sebut "Goals Triangle". Prinsipnya, setiap aktivitas SEO harus bisa ditarik garis lurus ke tujuan bisnis. Kalau sebuah deliverable tidak bisa dijelaskan garisnya sampai ke sana, deliverable itu perlu dipertanyakan, bagaimanapun bagus eksekusinya.

Kesalahpahaman yang bikin brand antipati

Pola yang paling sering saya temui begini. Seorang brand manager di perusahaan besar, yang namanya sudah kuat di kategori FMCG jadi antipati terhadap SEO setelah mengeluarkan budget signifikan tanpa melihat hasil bisnis yang jelas.

Menariknya, pekerjaan teknisnya sering kali tidak menjadi masalah. Yang bermasalah adalah apa yang sampai ke meja mereka. Mereka menerima audit teknis dan daftar perbaikan, bukan narasi dampak bisnis. Setelah dua tiga kuartal seperti itu, kesimpulan yang terbentuk di kepala mereka bukan "reporting-nya kurang tepat", melainkan "SEO tidak bekerja".

Ini masalah komunikasi dua arah. Business owner perlu lebih jelas dalam mendefinisikan goal agar penyedia jasa bisa selaras ke sana. Tapi kewajiban menerjemahkan pekerjaan teknis ke bahasa bisnis ada di sisi kita, bukan di sisi klien.

Pergeseran yang perlu dilakukan

Kalau SEO mau punya kursi yang lebih kuat di meja strategi, pendekatannya harus bergeser dari eksekusi teknis ke kontribusi yang terukur. Tiga hal yang saya pegang:

  • Mulai dari pertanyaan bisnis, bukan dari riset kata kunci. Pahami produk, audiens, dan tahap bisnis klien sebelum menyentuh tools apa pun.
  • Pastikan setiap deliverable, entah konten, link, atau technical fix, bisa dijelaskan kontribusinya ke funnel bisnis, bukan cuma ke metrik SEO.
  • Susun laporan dalam bahasa yang dipahami business owner. Pertumbuhan, penetrasi kategori, dan kontribusi terhadap pipeline. Traffic organik dan jumlah keyword yang naik tetap dilaporkan, tetapi posisinya hanya sebagai bukti pendukung, bukan sebagai headline.

Apa yang harus disiapkan SEO junior

Buat yang baru masuk industri ini, ada tiga saran yang saya sampaikan di episode tersebut.

Bangun augmented experience sendiri. Tidak ada lagi alasan untuk menunggu proyek datang dari kantor. Dengan domain murah dan platform no-code yang tersedia sekarang, siapa pun bisa membangun beberapa website atau kampanye latihan di industri yang berbeda dan memiliki portofolio nyata dalam hitungan bulan.

Pindahkan sudut pandang ke sisi bisnis. Sebelum membahas keyword, pahami dulu produk, audiens, dan posisi klien di pasar. Ini yang membedakan orang yang cuma bisa mengeksekusi task list dari orang yang bisa diajak berdiskusi tentang strategi.

Cari pengalaman di bisnis riil, entah sebagai karyawan atau konsultan lepas. Teori dari kursus online tidak akan pernah menggantikan pengalaman menanggung konsekuensi dari keputusan Anda sendiri.

Di episode ini saya juga sempat membahas gap kualitas SEO Indonesia dibandingkan dengan pasar seperti Singapura, Amerika, dan Eropa. Jaraknya masih seperti dari lantai satu ke lantai sembilan puluh. Tapi saya melihatnya sebagai peluang, bukan vonis. Salah satu klien saya dari Singapura sebelumnya membayar agensi lama tiga kali lebih mahal untuk hasil yang justru lebih buruk. Artinya, talenta Indonesia punya ruang besar untuk mengekspor dirinya sendiri, bukan menunggu peluang muncul di pasar domestik.

AI sedang mempersempit jendela untuk yang cuma bisa eksekusi

Bagian yang menurut saya paling penting dari obrolan itu adalah bagaimana AI mengubah lanskap kerja SEO.

Tools berbasis AI sekarang bisa menjalankan audit teknis, memperbaiki meta title, bahkan menyusun laporan lengkap beserta deck presentasinya dalam hitungan menit. Konsekuensinya, bisnis tidak lagi perlu merekrut orang semata-mata untuk tugas eksekusi manual. Jendela kesempatan untuk peran yang hanya mengandalkan skill teknis dasar sedang menutup.

Tapi ini bukan cerita tentang AI menggantikan SEO. AI tetap butuh input dan validasi manusia, dan prinsip garbage in, garbage out masih berlaku persis seperti dulu. Yang tidak bisa didelegasikan ke mesin adalah judgment tentang apa yang layak disebut output yang bagus dalam konteks bisnis tertentu. Yang berubah adalah standar minimum untuk masuk. Sekarang SEO junior harus datang dengan cara berpikir strategis, pemahaman bisnis, dan portofolio nyata, bukan cuma kemampuan mengeksekusi.

Pergeseran yang sama juga terjadi di sisi pengguna. Query pendek seperti "sepatu murah" bergeser menjadi pertanyaan yang lebih panjang dan spesifik di ChatGPT, Gemini, dan AI Overviews. Query panjang itu justru membuka intent pengguna yang jauh lebih kaya dibandingkan keyword pendek yang selama ini menjadi andalan. Prinsip yang saya pegang tetap sama, pahami audiens dulu, teknik SEO menyusul.

Membangun konten dari audience persona

Salah satu cara saya menjawab pergeseran ini adalah dengan membangun StoryMint, content marketing suite yang menempatkan audience persona sebagai fondasi pada setiap tahap kampanye, mulai dari SEO, optimasi visibilitas di AI search, hingga content brief.

StoryMint bukan pengganti Ahrefs atau Semrush. Posisinya melengkapi, memastikan strategi konten berangkat dari pemahaman audiens, bukan dari daftar keyword dengan volume tertinggi.

SEO harus berhenti menjual dirinya sebagai produk teknis dan mulai berbicara dalam bahasa yang dipahami business owner, yaitu revenue, pertumbuhan, dan penetrasi kategori. Ranking, traffic, dan backlink tetap penting, tapi posisinya sebagai alat ukur di tengah jalan, bukan tujuan akhir.

Buat yang baru masuk industri ini, standarnya sudah naik. AI mengambil alih pekerjaan eksekusi, dan yang tersisa untuk manusia adalah cara berpikir strategis dan pemahaman bisnis yang tidak bisa diserahkan kepada mesin.

Kalau Anda ingin dengar versi lengkapnya, termasuk cerita perjalanan saya dari developer PHP pada tahun 2005 sampai membangun Search Agency, episodenya ada di kanal YouTube DailySEO ID.

Dan kalau Anda sedang menimbang apakah investasi SEO Anda benar-benar terhubung ke angka bisnis atau berhenti di laporan ranking bulanan, mari kita ngobrol.

Butuh bantuan dengan ini?

Obrolan pertama gratis, tanpa slide deck.

Jadwalkan panggilan