Laporan AI Generatif di Search Console Sudah Muncul, Tapi Datanya "Sepotong"

Akhirnya, Google menambahkan data performa Generative AI ke Google Search Console. Sekarang teman-teman bisa melihat seberapa sering URL kita muncul di AI Overviews dan AI Mode, termasuk fitur generatif di Discover (Google Search Central). Ini pertama kalinya kita bisa tahu halaman mana saja dari website kita yang nongol di dalam jawaban AI-nya Google.
Tapi jujur saja, ini juga salah satu laporan paling "tipis" yang pernah dirilis Search Console. Di artikel ini, saya mau ajak teman-teman melihat apa saja yang sebenarnya bisa (dan tidak bisa) kita lakukan dengan data ini, biar tidak salah ambil kesimpulan.
Apa Saja yang Ada (dan Tidak Ada) di Laporannya
Laporannya cuma membawa lima dimensi: impressions, pages, countries, devices, dan dates (sampai detail per jam). Setelah itu, Google justru menahan empat angka yang biasanya pertama kali dicari oleh seorang SEO. Tidak ada data klik, tidak ada click-through rate, tidak ada average position, dan tidak ada data query. Kata Google, klik dan posisi akan menyusul "seiring waktu", tanpa tanggal yang jelas.
| Metrik | Ada di laporan AI Generatif? |
|---|---|
| Impressions | Ya |
| Pages | Ya |
| Countries | Ya |
| Devices | Ya (Search saja) |
| Dates (per jam sampai bulanan) | Ya |
| Clicks | Belum, katanya menyusul |
| Click-through rate | Tidak ada |
| Average position | Belum, katanya menyusul |
| Queries atau prompt | Tidak ada |
Kenapa Impressions Saja Itu Hadiah yang Bikin Bingung
Laporan ini cuma memastikan satu hal: halaman kita pernah muncul di AI Overviews, lalu berhenti di situ. Tidak ada kliknya, tidak ada query pemicunya, tidak ada posisinya. Jadi teman-teman tahu kita "tampil", tapi tidak tahu tampil itu menghasilkan apa.
Sebuah halaman bisa saja menumpuk banyak sekali AI impressions, tapi tidak mengirim satu pun pengunjung ke website kita, dan laporan ini bahkan belum bisa menunjukkan "kekosongan" itu, karena kolom kliknya saja memang belum ada. Sinyalnya nyata, tapi setengah-setengah. Jadi datanya harus kita olah dengan logika, bukan dibaca mentah-mentah dari dashboard.
Di hari yang sama, Google juga merilis satu kontrol terkait: sebuah toggle untuk mengeluarkan konten kita dari AI Overviews dan AI Mode tanpa kehilangan posisi di Search biasa. Fiturnya ada, tapi menurut saya ini tuas yang salah untuk hampir semua orang. Opt-out artinya kita malah membuang visibilitas AI yang justru sedang kita ukur lewat laporan ini. Aneh kan?
Sambungkan Search Console ke AI Assistant
Karena datanya tipis, langkah paling masuk akal adalah membuatnya cepat untuk "diinterogasi". Sambungkan Search Console ke sebuah AI assistant lewat MCP server, lalu teman-teman bisa bertanya soal laporan AI dan laporan Performance standar sekaligus, pakai bahasa biasa, alih-alih meng-export CSV lalu menyipitkan mata melototin angkanya.
Ada tools open-source bernama mcp-gsc buatan Amin Foroutan yang fungsinya persis itu, dan kompatibel dengan Claude maupun MCP client lain. Ada dua cara menjalankannya: versi hosted yang tinggal sign-in sekali klik tanpa perlu Python, atau versi self-hosted yang jalan di Python 3.11 dengan Google OAuth sendiri. Terima kasih buat Amin yang sudah membangun dan merawat tools ini.
Tapi ada satu catatan penting. Untuk sekarang, laporan AI Generatif belum tersedia lewat API/MCP, jadi bagian ini tetap harus kita export manual dari Search Console, lalu kita lampirkan (import) ke assistant. Sementara laporan Performance standar bisa langsung ditarik lewat MCP. Jadi alurnya memang hybrid: satu laporan kita unggah manual, satu lagi diambil otomatis lewat koneksi MCP.
Soal Proxy Query, dan Bagaimana Kita Harus Jujur Soal Ini
Laporan AI Generatif sama sekali tidak punya data query. Jadi untuk menebak intent, kita "meminjam" query pencarian web standar dari halaman tersebut sebagai proxy atas apa yang mungkin memicu kemunculannya di AI.
Nah, jalan pintas ini berguna, tapi gampang sekali disalahgunakan. Google tidak membuka query khusus AI, jadi query web tadi cuma pendekatan, dan bukan prompt yang sebenarnya. Beri label jelas sebagai proxy di dalam analisis kita, dan jangan biarkan siapa pun di ruangan mempresentasikannya sebagai "prompt AI". Suatu hari nanti kalau Google benar-benar membuka query AI yang asli, teman-teman pasti mau jadi orang yang dari awal tidak pernah melebih-lebihkannya.
Satu Prompt untuk Mengubah Hasil Export Jadi Analisis
Setelah laporan AI Generatif terlampir dan koneksi MCP siap, teman-teman tinggal kasih assistant satu brief yang memaksanya menghormati celah-celah di data. Ini contoh prompt-nya (silakan adaptasi sesuai website teman-teman):
Kamu adalah seorang analis SEO dan GEO. Kamu punya akses ke Google Search Console milik example.com lewat MCP, dan saya lampirkan satu file export manual. Gunakan dua set data berikut untuk periode 2026-05-18 sampai 2026-06-21: 1. Laporan AI Generatif (file export terlampir, karena belum tersedia lewat API/MCP): impressions dan pages di AI Overviews dan AI Mode. Tidak punya data klik dan tidak punya query. 2. Laporan Search performance standar (tarik langsung lewat MCP): queries, pages, clicks, impressions, position. Perlakukan query pencarian web standar sebagai proxy untuk intent, BUKAN sebagai prompt AI. Google tidak membuka query khusus AI. Analisis: 1. Halaman dengan AI impressions tinggi tapi klik sedikit atau nol. Gunakan laporan standar untuk data klik, dan kuantifikasi selisihnya. 2. Apakah top query tiap halaman cocok dengan topiknya, dan di mana ada satu istilah terlalu luas yang menggelembungkan impressions. 3. Pemisahan branded vs non-branded, dan (kalau website punya lebih dari satu bahasa atau segmen pasar) pemisahan antar-bahasa atau antar-segmen: di mana visibilitas AI terkonsentrasi, dan dari mana klik sebenarnya datang. 4. Top 10 perbaikan prioritas mencakup konten, schema, title, internal link, dan cara memformat konten supaya ramah AI. Pisahkan quick wins dari pekerjaan yang lebih besar. Mulai dengan ringkasan eksekutif lima poin. Gunakan tabel dengan angka nyata. Tandai setiap metrik yang berpotensi menyesatkan.
Apa yang Sebenarnya Dicek oleh Framework Ini
Setiap instruksi di prompt tadi mengarah ke satu titik kegagalan yang spesifik.
Halaman dengan AI impressions tinggi tapi kliknya tipis itu adalah tempat di mana Google memakai konten kita untuk menjawab pertanyaan pengguna tanpa mengirimkan kunjungannya ke kita. Mengukur selisih ini akan memberi tahu apakah "tampil di AI" itu benar-benar menghasilkan sesuatu atau tidak.
Mencocokkan top query dengan topik halaman akan menangkap kasus yang umum sekali terjadi: satu head term yang terlalu luas menggelembungkan angka sebuah halaman, padahal tidak menyumbang traffic yang berkualitas.
Pemisahan branded dan, kalau memang ada, pemisahan per bahasa atau per segmen pasar, menunjukkan di mana visibilitas kita terkonsentrasi versus di mana conversion sebenarnya masuk. Buat website yang melayani lebih dari satu bahasa atau pasar, dua hal ini sering kali ada di tempat yang berbeda. Tapi kalau website teman-teman cuma satu bahasa dan satu pasar, bagian ini tinggal dilewati saja.
Dan memaksa quick wins dipisahkan dari pekerjaan besar itu mencegah hasil analisisnya berubah jadi wish list yang tidak pernah dieksekusi siapa-siapa.
Soal Memformat Konten Supaya Ramah AI
Bagian ini sering dilewati orang, jadi memang perlu disebut secara gamblang. Maksudnya adalah menyusun halaman sedemikian rupa supaya fitur AI bisa "mengangkat" jawaban yang bersih dari halaman tersebut. Sebagian praktisi menyebutnya answer engineering atau content structuring for AI, tapi intinya sama.
Artinya: jawaban dinyatakan dengan lugas di bagian atas, klaim ditulis dalam bentuk teks (bukan terkunci di dalam gambar atau digambar oleh script), ada structured data yang menyebut entity-nya, dan identitas yang konsisten di seluruh halaman.
Permukaan AI itu menarik konten dari hal-hal yang bisa diekstrak oleh mesin. Halaman yang mengubur jawabannya atau me-render-nya pakai JavaScript bisa saja dapat impressions, tapi tetap tidak pernah dikutip dengan bersih. Prinsip yang sama berlaku untuk halaman client-rendered yang sering terbaca "kosong" oleh mayoritas AI crawler: muncul di AI Overview itu satu hal, bisa benar-benar dikutip oleh model itu hal lain.
Metrik-Metrik yang Akan Menyesatkan Teman-teman
Ada tiga jebakan yang duduk manis di dalam laporan ini.
Pertama, AI impressions itu bukan kunjungan. Sebuah halaman bisa muncul di AI Overview sebagai satu link di deretan sitasi yang tidak satu pun diklik orang.
Kedua, satu head term yang luas bisa menggelembungkan impressions sebuah halaman tanpa menambah satu pun demand yang berkualitas. Ini yang bikin angka impressions mentah jadi metrik kesuksesan yang buruk.
Ketiga, selama data klik belum mendarat di laporan ini, klaim apa pun soal "performa AI" yang dibangun cuma dari impressions itu sebenarnya cuma setengah pengukuran yang pakai kostum pengukuran utuh. Hati-hati, ya.
Jadi, di Mana Posisi Kita Sekarang?
Laporan AI Generatif ini sinyal yang asli, tapi sempit. Ia cuma memberi tahu di mana permukaan AI milik Google sendiri menampilkan halaman kita, dan diam soal ChatGPT, Gemini, maupun Perplexity, juga soal apakah jawaban-jawaban itu mendeskripsikan kita secara akurat atau tidak. Jadi perlakukan ia sebagai salah satu input, bukan satu-satunya sumber kebenaran.
Kalau teman-teman mau melihat gambaran visibilitas AI yang lebih utuh, mau tidak mau kita harus memantau juga assistant lain yang benar-benar dipakai orang sehari-hari, bukan cuma permukaan AI Google. Hal-hal seperti seberapa sering sebuah brand disebut, dibandingkan dengan kompetitor, sentimennya seperti apa, sampai traffic yang benar-benar dikirim AI ke website kita. Tapi itu pekerjaan terpisah, dan laporan GSC ini belum sampai ke sana.
Intinya, jangan terlalu cepat senang lihat angka impressions di laporan baru ini. Bagus untuk dilihat, tapi anggap saja ini potongan kecil dari gambar yang jauh lebih besar.
Ada yang sudah mulai ngulik laporan AI Generatif di Search Console punya teman-teman?
Obrolan pertama gratis, tanpa slide deck.